Disepong Dua Wanita Cantik Hijabers Bertindik -bjismythang - Indo18

Wanita hijab pertama yang kita soroti memiliki tragus dan helix bertindik. Ia memadukannya dengan anting-anting kecil berbahan perak dan hijab pashmina flowy berwarna dusty pink.

Tips gayanya:

Hasilnya? Tampilan effortless chic yang tetap sesuai syar’i namun berkarakter.

Oleh: Tim Fashion & Gaya Hidup

Pernah dengar istilah "Disepong"? Dalam konteks pergaulan modern (terutama di kalangan anak muda Bandung dan sekitarnya), kata ini sering berarti ditemani, dihibur, atau sekadar bersantai bersama. Nah, kali ini kita akan "disepong" oleh dua wanita cantik berhijab yang punya satu kesamaan unik: bertindik (piercing).

Banyak yang mengira tindik hanya milik subkultur tertentu atau gaya "nakal". Tapi dua inspirator gaya berikut membuktikan bahwa piercing—baik di telinga, hidung, atau alis—bisa menyatu sempurna dengan busana hijab modern. Simak ulasannya!

Beberapa minggu berlalu, Yara dan Aisha menjadi teman dekat. Mereka sering bertemu di kafe itu, kadang menelusuri pasar tradisional, kadang mengunjungi galeri seni di Yogyakarta. Suatu sore, Aisha mengusulkan ide yang menggugah: “Bagaimana kalau kita buat proyek bersama? Sebuah pameran foto yang menampilkan perempuan berhijab dengan tato—menunjukkan bahwa keindahan tak terkurung satu gaya saja.” Wanita hijab pertama yang kita soroti memiliki tragus

Yara terdiam sejenak. Ia pernah melihat foto-foto serupa di media sosial, namun jarang ada yang menampilkan keberagaman yang sebenarnya. “Kita bisa mengangkat cerita di balik setiap tinta,” katanya. “Bukan sekadar gambar, melainkan narasi—mengapa mereka memilih tato, apa artinya bagi mereka, dan bagaimana hijab mereka melengkapi identitas itu.”

Mereka memutuskan untuk memulai penelitian. Menggunakan jaringan media sosial, mereka menghubungi beberapa perempuan yang bersedia berbagi kisah. Dari seorang mahasiswi di Bandung yang menato bunga mawar di pergelangan kaki sebagai simbol pertumbuhan; hingga seorang pekerja sosial di Surabaya yang menato ayat-ayat Al‑Qur’an kecil di punggungnya sebagai perlindungan.

Setiap pertemuan diwarnai dengan tawa, air mata, dan kehangatan. Ada momen ketika salah satu peserta, Siti, mengungkapkan ketakutan akan penolakan keluarga. “Aku takut mereka menganggap tato itu bertentangan dengan keimanan,” katanya, menunduk. Yara menepuk bahunya, “Kita di sini bukan untuk menilai, tapi untuk mendengar. Setiap orang punya cara mengekspresikan rasa syukur mereka kepada Sang Pencipta.” Hasilnya


Kasus “Disepong Dua Wanita Cantik Hijabers Bertindik” memperlihatkan ketegangan antara kebebasan berekspresi dan norma kesopanan publik di Indonesia modern. Sementara sebagian masyarakat menilai tato sebagai bentuk seni dan hak pribadi, sebagian lainnya menganggapnya tidak sesuai dengan nilai-nilai kesopanan yang diharapkan dari pemakai hijab.

Situasi ini menandakan perlunya peninjauan kembali kebijakan daerah serta peningkatan dialog antar‑kelompok untuk menemukan keseimbangan yang menghormati keberagaman identitas tanpa mengorbankan ketertiban umum.

“Kebebasan berpendapat dan berpenampilan hanyalah satu sisi dari keadilan; sisi lainnya adalah rasa hormat terhadap nilai‑nilai bersama yang menjadi landasan kehidupan berbangsa.” Artikel ini disusun berdasarkan laporan media


Artikel ini disusun berdasarkan laporan media, pernyataan resmi, serta analisis kebijakan yang tersedia pada 15 April 2026.

Pada tanggal 10 April 2026, dua wanita muda berpenampilan hijab yang memiliki tato pada kulit terlihat di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Penampilan mereka memicu reaksi beragam di media sosial, hingga akhirnya pihak kepolisian melakukan interogasi karena dianggap melanggar norma kesopanan publik. Kasus ini kemudian menjadi sorotan utama dalam portal berita BjisMyThang dan situs hiburan INDO18, menimbulkan perdebatan sengit tentang kebebasan berekspresi, nilai-nilai budaya, dan regulasi terkait tato di ruang publik.