Rukun Shalat Jenazah (Tertib): Shalat jenazah hukumnya Fardhu Kifayah. Tata caranya berbeda dengan shalat fardhu 5 waktu karena tidak ada ruku', sujud, dan duduk.
1. Niat Niat shalat jenazah harus di dalam hati. Lafadz niat untuk jenazah laki-laki:
"Ushalli 'ala hażal-mayyiti arba'a takbiratin fardhal-kifayati makmaman/imaaman lillahi ta'ala." (Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum/imam karena Allah Ta'ala).
Untuk perempuan, lafaznya diganti menjadi "hazihil-mayyitati".
2. Takbir Pertama Takbiratul Ihram (Allahu Akbar), lalu membaca Surat Al-Fatihah.
3. Takbir Kedua Takbir (Allahu Akbar), lalu membaca Shalawat Nabi (Shalawat Ibrahimiyah).
"Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad..." (seperti shalawat akhir dalam shalat biasa).
4. Takbir Ketiga Takbir (Allahu Akbar), lalu membaca Doa untuk Jenazah. Doa standar (Ringkas): teks tajhiz jenazah kamil
"Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' madkhalahu, waghsilhu bil-ma'i wats-tsalji wal-barad, wa naqqihi minal-khataya kama naqqaitats-tsaubal-abyadha minad-danasi, wa abdilhu daran khairan min darihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul-jannata, wa a'idzhu min 'adzabin-qabri wa min 'adzabin-nar." (Ya Allah, ampunilah dia, sayangilah dia, sejahterakanlah dia... dan maafkanlah dia...).
(Jika jenazah perempuan, lafaz "lahu" diganti "laha", "min zaujihi" diganti "min zaujiha").
5. Takbir Keempat Takbir (Allahu Akbar), lalu membaca Doa Penutup.
"Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba'dahu waghfir lana wa lahu." (Ya Allah, janganlah Engkau hilangkan pahala kami padanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia).
6. Salam Salam ke kanan dan ke kiri (Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh).
Ganti lafaz "tadzkiir" (laki-laki) dengan "ta’niits" (perempuan):
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ التَّأْنِيثِ تَطْهِيرًا... (dan seterusnya). mengafani ( at-takfin )
According to the Shafi‘i school (predominant in Southeast Asia), the complete management of a jenazah comprises four duties:
| # | Obligation | Meaning | |---|------------|---------| | 1 | Mandi | Washing the body | | 2 | Kafan | Shrouding the body | | 3 | Salat | Performing the funeral prayer | | 4 | Dafan | Burying the body |
The Tajhiz Jenazah Kamil text elaborates each with conditions, sunnah acts, and the required Arabic doa.
When placing the body into the grave (or before covering):
Arabic:
نَوَيْتُ دَفْنَ هٰذَا الْمَيِّتِ فِي هٰذَا الْقَبْرِ دَفْنًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu dafna hādzal mayyiti fī hādzal qabri dafnan lillāhi ta‘ālā.
Meaning:
“I intend to bury this deceased in this grave as a burial for the sake of Allah Ta‘ala.”
After burial, it is sunnah to recite Talqin (reminder to the dead of the Shahada) and Tahlil.
Tajhiz jenazah adalah rangkaian proses pengurusan jenazah yang meliputi: Memandikan, Mengkafani, Menshalatkan, dan Menguburkan. Berikut adalah teks-teks inti yang digunakan dalam praktiknya:
Dalam syariat Islam, mengurus jenazah seorang Muslim yang meninggal dunia adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Jika tidak ada satu pun orang di suatu komunitas yang melaksanakannya, maka seluruh masyarakat tersebut akan berdosa. Rangkaian pengurusan ini dikenal dengan istilah Tajhiz al-Janazah, yang meliputi empat langkah utama: memandikan (al-ghuslu), mengafani (at-takfin), menyalatkan (as-shalatu ‘ala al-mayyit), dan menguburkan (ad-defnu).
Artikel ini menyajikan Teks Tajhiz Jenazah Kamil—panduan lengkap dari niat hingga doa akhir, sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Bacaan ini penting bagi para petugas takziyah, keluarga duka, maupun setiap Muslim yang ingin mempersiapkan diri untuk urusan akhirat. menyalatkan ( as-shalatu ‘ala al-mayyit )